#9 Rehat Sejenak

Dalam hening malam nan syahdu ditemani dengan suara jangkrik yang merdu dan secangkir kopi hangat. Malam-malam ini terasa beda dengan malam yang lain. Engkau mungkin tahu sahabat, mengapa malam ini bergitu berbeda. Malam yang selalu dinanti tetapi malas untuk mengakhiri bahkan berharap jangan terjadi, walaupun sudah menjadi suratan takdir.

Malam di mana esok akan dimulai pergulatan untuk mengejar mimpi yang tertunda beberapa masa yang lalu. Malam yang tepat untuk perenungan kembali bertanya pada diri sendiri mengenai arti semua perjalanan yang telah dilalui. Bulan dan bintang pun tersenyum melihat seorang manusia terduduk termangu dalam senyum yang indah seakan mengerti bahwa malam ini begitu berarti karena esok hari nanti perjalanan memulai hidup yang lebih baru akan dimulai dari titik nol.

Malam yang penuh dengan retorika dan tanya seakan penuh makna yang cukup dalam. Memang penuh dengan realita dan fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa ini memang benar-benar terjadi begitu cepat. Inginnya sedari dulu memang semua tercapai, tetapi begitu Sang Pencipta memberikannya dengan begitu cepat dan bahkan melebihi apa yang diharapkan justru membuatnya terkaget bahkan serasa belum siap. Apalagi yang kurang, memang tidak ada. Belum siap untuk menerima kenyataan secepat ini. Kenyataan dan impian yang diimpikan oleh sebagaian orang. Janganlah kecewakan mereka, orang yang kamu sayangi.

Keluarlah sejenak dari kehidupan duniamu. Menghadaplah dan bersujudlah kepada Sang Pencipta di tengah malam yang hening dan damai. Curahkanlah apa yang menjadi risau di hatimu. Rendahkanlah hatimu, serendah-rendahnya. Serahkan dirimu seikhlas-ikhlasnya, biarlah Sang Pencipta nanti yang akan memberikan jalan yang terbaik untukmu.

Kadang memang kita perlu berhenti sejenak untuk lanjut kembali dari segala hiruk pikuk dunia ini. Bahkan anak panah untuk melesat lebih jau lagi perlu ditarik ke belakang bukan? Sebuah perumpamaan sederhana yang sering kali kita lupakan akibat terlalu asyik dengan kepentingannya masing-masing. Kesibukan yang terkadang bahkan memang bisa membuat kita lupa apa hakikatnya kita hidup di dunia. Bukannya kita memang nantinya akan mengalamai suatu fase yang dinamakan kematian dan kehidupan selanjutnya yang lebih abadi bukan? Apalah yang kita kejar dari dunia, seakan-akan semua terlena oleh gemerlap indahnya dan rayuan dunia. Dunia memang tempat kita tinggal untuk sementara, tempat untuk menebar benih kebaikan bagi semua orang.

Perlu pemikiran dan renungan yang mendalam untuk menyadari semua itu. Semua tindakan dan keputusan yang kita ambil dalam setiap kehidupan kita. Apakah kebermanfaatan ini semata hanya untuk diri kita sendiri atau untuk orang lain adalam artian masyarakat yang lebih luas?

Kita perlu berbicara dari hati ke hati dengan diri kita sendiri, menanyakan segala ego dan rasa puas yang sering menjadi bagian dari setiap langkah. Rasa ingin memiliki dan mencapai semua apa yang diinginkan, padahal apa yang kita inginkan belum tentu baik, terkadang hanya sekadar dorongan nafsu semata yang cukup buta kelihatannya.

Mari kita rehat sejenak di tengah malam mini. Sambil mendengarkan bisikan-bisikan dari alam yang indah dan sunyi. Rehat dan renungi setiap keputusan-keputusan besar yang akan kita ambil selama hidup kita. Semoga memang ini yang menjadi keputusan terbaik walaupun sebelumnya dilanda kebimbangan dan kerisauan. Tidak ada keputusan yang pasti hanya kita yang harus pasti memilih untuk menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan siap untuk menerima segala konsekuensi terbesar dari setiap langkah kaki kita.

Sumber gambar : oediku

#9 Rehat Sejenak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

Featured Post

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat

Nelayan di Pulau Larat Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, da...