#22 Menunggu Purnama

Di saat semua berdiri dalam terpaku di kesunyian malam, di saat bintang dan kerlip lampu mulai bersahutan. Aku duduk terdiam memandang dalam kejauhan akan artinya cinta sejati. Cinta bukan hanya sekadar ego untuk memiliki, tetapi kesucian dalam penjagaan yang diharapkan. Cinta sejati tidak memaksa untuk memiliki atau dimiliki. Namun, bila cinta telah tiba di saat yang tepat akan mengantarkan kita ke gerbang kehidupan yang abadi.

Cinta akan datang bila cinta membutuhkan cinta. Perlu sebuah dinamika yang pelik dan tidak sebentar untuk menumbuhkan rasa yang telah lama hilang. Di  waktu dulu kita penah saling duduk bersama dan bertatap muka dalam masa yang berbeda. Di saat kita telah mulai menemukan rasa yang sepat terbesit.Namun aku masih ragu, apakah ini hanya rasaku saja. Di saat rasa itu tiba-tiba muncul kembali menghantui dalam setiap perjalanan hidup. Di saat aku mulai ragu untuk menyatakannya. Ragu untuk mulai mengungkapkan arti rasa yang sebenranya. Apakah ini benar-benar cinta sejati yang tulus dari dalam hati ataukah hanya rasa dan ego untuk memiliki.Kadang aku masih bertanyya-tanya pada diriku sendiri. Aku masih ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi untuk mengabdi selama dua musim yang akan kujalani akan musim-musim berat maupu n musim-musim yang telah lama kujalani.

Aku ingat di saat kamu tersenyum kepadaku di kala itu. Senyuman penuh makna akan arti terdalam. Aku terpesona dan langsung hati saat itu. Senyuman yang begitu tulus dan membuatku selalu ingin memngulang kembali masa-masa itu. Aku kembali menuliskan senyumanmu itu. Menuliskan dalam lembaran putih coretan sederhana penuh emosi yang datang dari makna paling dalam. Bicara soal rasa yang kadang terlelap dalam lamunan senja di ufuk cakrawala. Menanti akan hadirnya tatapan mata dan sekelebat bayang yang selalu menghantui dalam setiap nafas-nafas. Dalam deru buaian angin malam yang dingin menusuk kulit-kulit kering. Teringat akan sebuah rasa yang lama terpendam dibalik kesunyian malam ditemani secangkir kopi hangat menhangatkan jiwa-jiwa yang telah lama sepi.

Terdengar suara gemerisik lembut pasir berisik pelan dan perlahan namun pasti selalu hadir dalam setiap langkah yang selalu menyertaimu. Kelabat sang burung camar terbang di jejak-jejak malam sunyi yang tertinggal di burutan kapal sore itu. Kapalmu telah melaju dengan perlahan meninggalkan garis tepi tempat aku berdiri di sini. Berdiri untuk selalu menunggu dalam ketidakpastian. Menungu untuk waktu yang telah ditentukan seperti purnama di ujung sana. Kau yang selalu kuat dan mandiri dalam setiap doa dan usahamu. Terkadang mengeluh akan hadirnya rasa yang tidak bisa terdefinisikan di dalam hati tak terduga. Kau yang tetap lanjut dalam perjalanan panjang untuk cita dan cintamu. Yang selalu merindukan akan hangatnya matahari khatulistiwa. Merindukan di setiap sudut-sudut kota yang penuh dengan kenangan dalam angan yang terbuai oleh makna.

Diri ini yang akan selalu optimis untuk selalu maju. Dirimu juga berharap sepeti itu sampai kita bertemu di belahan dunia yang selalu kita  impikan bersama di setiap malam panjang di tidurmu juga mimpiku. Berpijak di tanah yang penuh dengan salju. Bermain bola-bola salju dengan dirimu. Kubayangkan senyumanmu. Kubayangkan canda tawamu. Sorak dan semangatmu yang membara tidak sebanding dengan badanmu yang kecil. Sebuah penantian dan rasa harap memang terkadang menyakitkan juga membuat kita rindu akan hadirnya waktu itu kembali walaupun hanya sekejap mata memandang bayangan punggungmu yang beranjak pergi meninggalkanku. Terkadang aku juga takut akan rasa yang tiba-tiba menghantui kembali tanpa tahu kapan rasa itu datang dan pergi.

Membutmu tertawa dalam kebahagianku tersendiri. Tertawa dan ceria dalam tiap jengkal kehidupanmu. Kutitipkan sajak-sajak rindu petang ini pada sang purnama yang engkau akan melihat juga.Semoga bahagia dan seha selalu di sana. Aku di sini yang akan selalu menyebut namanu dalam setiap sujud di tengah malam ini.  Dari hati terdalam semoga engkau paham akan makna dari semua ini. Berharap rasa itu tidak datang lagi kembali padaku. Berharap rasa itu tetap tersimpan abadi selamanya di dalamrelung hatiku. Kusimpan rapat-rapat yang akan dibuka hingga ujung waktunya nanti. Selamat jalan sahabat. Selamat jalan, semoga engkau akan selalu bahagia dan terus menggapai cita dan cintamu.

#22 Menunggu Purnama Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Wido Cepaka Warih

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih telah mengunjungi blog saya. Mohon kritikan dan sarannya ya :)

Featured Post

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat

Nelayan di Pulau Larat Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, da...