Sebuah Refleksi Pagi

Apa yang membuat kita berpikir bahwa kita adalah manusia yang lebih maju? Apakah yang dikatakan maju adalah keadaan di mana teknologi berjalan secara pesat dan cepat?
Jawabannya ada di diri kita masing-masing.

Hal ini diawali dengan obrolan menarik pada suatu malam dengan seorang teman di teras samping rumah. Obrolan ringan mengenai ritme hidup di mana terjadi fenomena yang berbeda antara zona waktu, kota maupun desa.

Sudah lama rasanya tidak bisa memungkiri ketika kita dihadapkan pada keadaan yang mengharuskan kita serba cepat. Teknologi pun bukan hanya membantu manusia seperti tujuan awal tetapi sudah menjadi kebutuhan dan dalih ekonomi. Tapi buat siapa? Apakah hanya di kota yang sudah maju saja?

Alkisah ketika kita singgah sejenak di sebuah desa pulau terluar (saya lebih setuju pulau terdepan), di mana kehidupan berjalan dengan penghayatan yang alami. Pagi hari minum teh atau kopi ditemani dengan kue buatan sendiri, menikmati matahari yang mulai bangun dari tidurnya, ada yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, ke kebun maupun ke laut. Saling sapa ketika di jalanan desa.
Tidak nampak suatu hal dinamakan "terburu-buru", rutinitas yang menjadi perjalanan penghayatan layaknya manusia seutuhnya dalam mensyuri setiap jengkal langkah mengayun. Di sore hari, pulang dari kebun bercengkerama ditemani kopi panas, nampak letih di wajah dan keringat yang menetes. Senja menemani sore yang menjadi saksi arti sebuah kerja keras.

Malam penuh bintang, ada ibu yang sedang mengelupas kulit kacang hasil dari kebun, anak-anak bermain ditugu desa, kisah sinetron favorit warga bercerita kehidupan anak muda dan motornya menjadi penghibur di kala kepenatan ada. Menonton bersama di sebuah rumah menambah keakraban sesama mereka. Nampak beberapa celetukan dan komentar ketika adegan mulai seru. Toh itulah yang menjadi hiburan malam sebelum memasuki kamar tidur untuk beristirahat.

Terkadang dalam hati, saya pribadi juga menjadikannya ini sebuah refleksi atas apa yang telah dilalui. Sebuah contoh kehidupan yang berjalan apa adanya. Pun kehidupan berjalan sesuai dengan arah dan jalur masing-masing. Di manapun berada, bukanlah yang paling mulia adalah sebaik-baik orang yang paling bermanfaat untuk orang lain, walaupun sekecil apapun itu sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Terima kasih telah memberikan kepada kami arti sebuah kehidupan.
#tulisanrandom #refleksipagi #saumlaki

Sebuah Refleksi Pagi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Wido Cepaka Warih

Featured Post

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat

Nelayan di Pulau Larat Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, da...