Merah Putih Kecil dari Bapak

Merah Putih Kecil dari Bapak

Waktu SD saya pernah lupa bunyi beberapa sila dalam Pancasila, ketika itu entah apa yang ada di pikiran saya, padahal biasanya ketika Bapak tanya saya langsung bisa menjawab dengan cepat, mungkin karena kebanyakan maen kelereng sampai maghrib. Hehe. Alhasil Bapak saya memberikan hukuman kepada saya, setiap pagi sebelum cium tangan ketika mau berangkat sekolah, saya harus setor hapalan Pancasila kepada Bapak sampai betul pengucapannya. Baru saya boleh cium tangan dan berangkat ke sekolah sambil lari takut terlambat, padahal jarak rumah dan sekolah tidak bisa dibilang dekat.

Di lain kesempatan, di waktu luang setelah pulang dari "langgar" (baca: musholla), Bapak bercerita tentang Pancasila itu sendiri dan implementasinya. Karena masih kecil, masih SD, saya hanya bisa mengangguk-angguk saja sambil mencomot pisang goreng yang sudah mamak buat. Terkadang Bapak menyelipkan sepotong cerita tentang perjuangan kakek dulu melawan penjajah di bawah pimpinan Pak Harto. Kakek waktu itu bertugas sebagai pembawa radio komunikasi yang cukup berat bebannya, karena harus terhubung terus dengan komando dan mengabarkan pergerakan.

Beruntungnya masa kecil saya dan adik saya masih sempat mendapatkan sosok nyata seorang Kakek yang dari sorot matanya berapi-api ketika bercerita tentang Indonesia. Bahkan Bapak saya membawakan kepada saya sebuah bendera Merah Putih kecil yang saya bawa merantau dan bendera itu pulalah yang saya bawa ketika mendapatkan kesempatan menginjakkan kaki di negeri orang. Dan saat ini bendera Merah Putih itu sudah menemani perjalanan saya mengelilingi negeri ini dari Aceh hingga Papua.


Menjaga Kewarasan

Di tengah arus informasi yang semakin liar di masa sekarang ini, perlunya kewarasan untuk mencerna dan memilah, kebaikan dan kebenaran. Yang terlihat benar belum tentu sepenuhnya benar, dan yang terlihat salah belum tentu sepenuhnya salah, perlu untuk melihat lebih dalam berkali-kali, seyogianya tombol filter itu di tangan kita, apakah akan termakan dengan sumbu pendek atau lebih jauh untuk mencari tahu sebelum menyebarkan.

Zaman kami kecil, televisi masih menjadi barang mahal, alhasil radio kesayangan Bapak selalu menemani hari-hari kami. Bapak kerap beberapa kali memutarkan channel seperti BBC, bahkan saya harus membuat catatan dari isi siaran yang kadang saya tidak mengerti sebelum Bapak menjelaskan. Beliau bahkan rela untuk berlangganan majalah Bobo demi kami, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengajak ke toko buku loak di pasar di kabupaten kami, apalagi kalau pas kami lagi ke Jogja, pasti beliau mengajak kami ke Shopping Center di bilangan Taman Pintar. Sampai lupa waktu kalau sudah di sana. Beliau sering memberi contoh terkait dengan literasi dan pembelajaran informasi yang berguna hingga di masa sekarang ini. Terkadang dulu aku iri dengan teman-teman sebaya, ketika yang lain membeli mainan baru, aku justru tidak mendapatkannya, Bapak lebih memilih untuk membelikan aku buku atau majalah anak-anak.

Semoga aku kelak bisa meneladani apa yang sudah Bapak contohkan kepada kami.

Merah Putih Kecil dari Bapak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih telah mengunjungi blog saya. Mohon kritikan dan sarannya ya :)

Featured Post

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat

Nelayan di Pulau Larat Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, da...