Pande Besi

Teringat kakek saya yang selalu mengerahkan sekuat tenaga ketika menempa besi-besi saat panas-panasnya. Bukan tanpa tujuan, membentuk lempengan baja menjadi sabit, parang, cangkul bukanlah perkara mudah. Semasa kecil aku paling suka ketika kakek sudah mengajakku ke "besalen", tempat para pande besi berada. 

Di sanalah aku melihat proses lempengan baja dibakar sampai merah menyala, dipukul dengan palu saling bergantian, dibakar lagi, dipukul lagi, dibentuk menjadi parang atau sabit, dicelupkan ke dalam air sampai asap mengepul.

Menurutku itu suatu atraksi yang sangat menarik di saat saya masih kecil. Saya tidak habis berpikir bagaimana bisa baja sekeras itu dapat menjadi parang yang indah. Kenapa harus dibakar dulu, dipukul bergantian, dibakar lagi, dimasukkan ke dalam air, dikikir sampai tajam.


Sekarang akhirnya aku mengerti, begitulah perjuangan sebuah hidup untuk menjadi bermakna dan bermanfaat bagi semua. Harus berani ditempa dengan berbagai macam ujian, kelak kita akan lulus dengan senyuman.

Ah, kakek, rindu aku maen ke besalen lagi dengan muka cemong-cemong hitam jelaga, semoga Kakek tenang di sana.

Pande Besi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Wido Cepaka Warih

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih telah mengunjungi blog saya. Mohon kritikan dan sarannya ya :)

Featured Post

#25 Meraba Urat Nadi Kehidupan di Pulau Larat

Nelayan di Pulau Larat Geliat kehidupan di Pulau Larat dapat diraba dari interaksi warga pada sumber daya alam, tradisi, da...